4N16 vs 4N15: Mesin Diesel yang Akan Diwariskan dari Triton ke Pajero Generasi Baru
Di GIIAS 2026, sorotan Mitsubishi jatuh ke New Xforce HEV — tapi kabar diesel yang lebih besar justru datang dari luar hall pameran: Pajero generasi baru dilaporkan akan mewarisi mesin 4N16 milik Triton, bukan 4N15 yang dipakai Pajero Sport saat ini. Artikel ini mengurai empat perbedaan teknis utama kedua mesin, status uji B50 Mitsubishi yang belum sepenuhnya tunggal, dan relevansinya bagi pemilik Pajero Sport dan Triton yang sudah mengonsumsi Biosolar B50 setiap harinya.
Di booth Mitsubishi GIIAS 2026 (Hall 10A, ICE BSD City), sorotan utama justru jatuh ke New Xforce HEV — model hybrid bensin, bukan diesel. Pajero Sport tetap hadir di booth untuk test drive dan konsultasi produk, tapi bukan sebagai peluncuran baru; generasi Pajero Sport dengan mesin 4N15 sudah lebih dulu diperkenalkan di GIIAS 2024. Namun justru di luar hall pameran, ada kabar diesel yang jauh lebih besar: generasi terbaru Pajero — SUV flagship yang absen dari pasar global sejak 2021 — dilaporkan bakal diluncurkan secara global pada 2 September 2026, dan akan mewarisi mesin diesel 2.4L milik Mitsubishi Triton, bukan mesin 4N15 yang dipakai Pajero Sport saat ini.
Ini mengangkat pertanyaan yang relevan buat pemilik Triton dan Pajero Sport sekarang: apa sebenarnya beda mesin 4N16 (Triton) dan 4N15 (Pajero Sport), dan kenapa Mitsubishi memilih mewariskan yang satu, bukan yang lain?
Apa Beda 4N16 dan 4N15?
Kedua mesin punya kubikasi identik — 2.442 cc, 4 silinder segaris, DOHC 16 valve, common rail, turbo dengan intercooler, standar emisi Euro 4 — tapi 4N16 (dipakai Triton sejak GIIAS 2024) adalah unit yang lebih baru dengan sejumlah penyempurnaan dibanding 4N15 (masih dipakai Pajero Sport hingga sekarang):
| Spesifikasi | 4N15 (Pajero Sport Dakar) | 4N16 (Triton) |
|---|---|---|
| Kapasitas | 2.442 cc | 2.442 cc |
| Tenaga maksimal | 178,5-181 PS @ 3.500 rpm | 184 PS @ 3.500 rpm |
| Torsi maksimal | 430 Nm @ 2.500 rpm | 430 Nm @ 2.250 rpm |
| Standar emisi | Euro 4 | Euro 4 |
| Turbo | VGT (Variable Geometry Turbo) | VGT dengan setelan diperbarui |
Menurut General Manager Product Strategy Division PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Guntur Harling, ada empat perbedaan teknis utama: bentuk piston bagian atas pada 4N16 yang disempurnakan (lebih ringan, minim gesekan, pendinginan ruang bakar lebih baik), pembaruan pada supply pump dan injector, bentuk inlet yang lebih optimal, dan penggunaan variable oil control valve. Selisih tenaga di atas kertas relatif kecil (3 PS), tapi yang lebih terasa adalah torsi puncak 4N16 dicapai 250 rpm lebih awal — hal besar untuk mesin diesel yang putaran kerjanya tidak tinggi, dan sangat relevan untuk beban penuh di medan tambang atau perkebunan.
Karena keunggulan itulah generasi Pajero baru — yang dirancang sebagai SUV ladder-frame premium flagship — dilaporkan akan mengadopsi basis mesin diesel 2.4L milik Triton (4N16), bukan mempertahankan 4N15 yang sudah dipakai Pajero Sport sejak beberapa generasi.
Bagaimana Status B50 untuk Pajero Sport dan Triton?
Ini bagian yang perlu kehati-hatian, karena belum ada satu pernyataan tunggal yang bisa dikutip sebagai "MMKSI mengonfirmasi B50" secara spesifik. Yang tersedia dari sumber resmi dan kredibel:
- Mei 2026 — perwakilan MMKSI (disebut sebagai Azuma dalam laporan Kompas.com) menyatakan mesin diesel Mitsubishi "telah dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik bahan bakar yang tersedia di Indonesia," namun tetap menyarankan konsumen menggunakan bahan bakar sesuai spesifikasi resmi, menjaga kualitas bahan bakar, dan servis berkala — mengingat komponen seperti injektor dan fuel pump bekerja presisi tinggi dan butuh suplai bahan bakar bersih.
- April 2026 — laporan media otomotif menyebut mesin 4N15 2.4L VGT pada Pajero Sport "cukup kompatibel dengan penggunaan biodiesel" karena pembakaran yang lebih stabil dari teknologi VGT-nya.
- Riwayat lebih lama — mesin diesel common rail Pajero Sport dan Triton (Euro 4) sebelumnya sudah dinyatakan aman untuk B35 oleh teknisi bengkel resmi, dengan saran mengganti filter solar lebih sering (setiap 5.000-10.000 km) dan menjaga mesin tetap beroperasi rutin agar sirkulasi BBM di sistem common rail tidak terganggu.
- Catatan berimbang — satu sumber bengkel independen (bukan pernyataan pabrikan) mengingatkan bahwa kandungan sulfur pada B50 perlu diperhatikan untuk mesin diesel common rail modern secara umum, termasuk Pajero Sport dan sejenisnya — pandangan ini berbeda arah dari nada optimis pernyataan resmi di atas, dan layak diketahui sebagai bagian dari diskusi yang belum sepenuhnya tunggal.
Belum ditemukan pernyataan resmi MMKSI yang secara spesifik menyebut angka kilometer uji jalan B50 untuk Triton atau Pajero Sport, seperti yang sudah dilakukan Toyota atau Hino. Jika ada pembaruan dari MMKSI soal ini, akan lebih kuat untuk dikutip verbatim ketimbang disimpulkan dari statement umum di atas.
Kenapa Perbedaan Mesin Ini Relevan untuk Pemilik di Era B50?
Torsi puncak yang datang lebih awal pada 4N16 (2.250 rpm vs 2.500 rpm pada 4N15) berarti sistem injeksi bekerja pada rentang tekanan yang sedikit berbeda saat beban penuh — dan ini menjelaskan kenapa detail seperti supply pump dan injector menjadi bagian dari pembaruan 4N16. Sistem presisi tinggi seperti ini yang paling sensitif terhadap dua sifat kimiawi biodiesel B50: kecenderungan menyerap air (higroskopis) dan potensi oksidasi seiring waktu penyimpanan — bukan cuma soal kandungan sulfur yang disebut bengkel di atas.
Di Mana Peran Aditif Bahan Bakar seperti Nano Diesel?
Pada pengujian dyno independen oleh Elika Automotive Performance dengan bahan bakar B100, Nano Diesel — aditif bahan bakar diesel berbasis teknologi nanopartikel karbon (N6) dari Nanosix — diuji langsung pada Mitsubishi Pajero Sport Dakar: torsi maksimal naik dari 425,2 Nm menjadi 433,4 Nm (+1,9%). Pengujian ini dilakukan terpisah dari Toyota Fortuner (torsi +2,6%, tenaga +3,5%) dalam rangkaian uji multi-kendaraan yang sama, sehingga bukti tidak bertumpu pada satu mobil saja.
Di sisi lubrisitas, pengujian LEMIGAS pada B100 menunjukkan keausan HFRR turun dari 280,5 menjadi 249 mikron — parameter yang relevan untuk sistem common rail bertekanan tinggi seperti yang dipakai 4N15 maupun 4N16. Pada pengujian stabilitas oksidasi (rancimat), Nano Diesel menaikkan angka dari 227 menit menjadi 295 menit pada B100 — relevan langsung dengan karakter biodiesel B50 yang dibahas di atas.
Catatan pengujian: hasil dyno Pajero Sport Dakar di atas diuji oleh Elika Automotive Performance pada bahan bakar B100 — bukan B50 — dan hasil dapat bervariasi tergantung kondisi mesin dan bahan bakar. Kami tidak menyamakan hasil pada B100 dengan hasil yang akan didapat pada B50.
Yang tidak bisa kami klaim: Nano Diesel tidak diuji untuk klaim irit bahan bakar atau perpanjangan umur mesin, sehingga tidak ada pernyataan tersebut di artikel ini.

Nano Diesel 1 Botol
Nano Diesel 70ml — Aditif Solar Premium untuk Perlindungan Mesin dan Performa Optimal

Nano Diesel 3 Botol
Nano Diesel 70ml (Paket 3 Botol) — Aditif Solar Premium untuk Perlindungan Mesin dan Performa Optimal

Nano Diesel 5 Botol Gratis 1 Botol
Nano Diesel 70ml (Paket Hemat 6 Botol) — Aditif Solar Premium untuk Perlindungan Mesin dan Performa Optimal
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa beda utama mesin 4N16 dan 4N15?+
Apakah Pajero Sport baru diluncurkan di GIIAS 2026?+
Apakah Pajero Sport dan Triton aman pakai B50?+
Kenapa Pajero generasi baru pakai mesin Triton, bukan mesin Pajero Sport saat ini?+
Sumber: GridOto, Mitsubishi Bandung, Autofun, Pikiran Rakyat (spesifikasi & perbandingan 4N16 vs 4N15, GIIAS 2024), Otojatim/Mitsubishi Motors Indonesia (booth & peluncuran Xforce HEV, GIIAS 2026), VIVA/Gridoto/Moladin (kabar Pajero generasi baru & mesin Triton, Juli 2026), Kompas.com (pernyataan MMKSI soal biosolar, Mei 2026), Suara.com (kompatibilitas B50 Pajero Sport, April 2026), Kompas.com (catatan bengkel independen soal sulfur B50, Juli 2026), data uji Elika Automotive Performance & LEMIGAS (Product Knowledge Pack Nano Diesel, internal Nanosix).